Tuesday, December 25, 2012

10 Teknologi Navigasi Di Smartphone

Smartphone saat ini dilengkapi dengan teknologi untuk melacak keberadaan Penggunanya. Perangkat navigasi pada awalnya berperan sebagai pelengkap service yang disiapkan smartphone. Tetapi, lama kelamaan, perangkat navigasi ini dimusuhi oleh pengguna smartphone dikarenakan mengancam privasi.

10 Teknologi Navigasi Di Smartphone

Seth schoen, staf teknologi senior di yayasan electronic frontier menyebutkan, perangkat navigasi di smartphone bisa beresiko untuk keselamatan individu. Privasi yang terbuka lebar dapat menambah hasrat pihak spesifik untuk menguntit atau lakukan penculikan.

Tetapi, nyatanya, banyak juga pengguna smartphone yang memakai sistem navigasi ini serta tidak jadi hidupnya terganggu atau terancam. Navigasi dipakai untuk bermain game, untuk melakukan aktivitas di jejaring sosial dengan tunjukkan keberadaan dirinya, atau untuk menolong melacak alamat saat ada di area baru.

Di bawah ini yaitu 10 teknologi navigasi yang berbeda, yang sudah diaplikasikan maupun yang tengah dikembangkan di smartphone.

GPS
Global Positioning System (GPS) pertama kali dibangun oleh Departemen Pertahanan AS diperkenalkan pertama kali pada smartphone di akhir 1990-an. Saat ini GPS dikenal sebagai cara terbaik untuk menemukan lokasi di luar ruangan. GPS menggunakan konstelasi satelit yang mengirimkan lokasi dan data waktu dari ruang angkasa ke ponsel. Jika ponsel bisa menerima sinyal dari tiga satelit, maka keberadaan ponsel akan tampak pada sebuah peta datar, sekaligus menunjukkan elevasi.

Assisted GPS
GPS bekerja dengan baik jika ponsel menemukan tiga atau empat satelit, namun menutuhkan waktu yang lama. GPS kadang tidak dapat bekerja ketika pengguna smartphone berada di dalam ruangan atau tempat yang memantulkan sinyal satelit. Assisted GPS memberikan beberapa tools yang membantu mempercepat kerja GPS.

Ketika pertama kali menemukan satelit, maka pengguna smartphone harus men-download informasi dimana mereka akan berada dalam 4 jam ke depan. Informasi ini dibutuhkan oleh ponsel untuk tetap terhubung dengan satelit. Jika GPS full service telah terpasang di ponsel, maka waktu untuk startup GPS akan dipangkas, dari 45 detik menjadi 15 detik. Carrier juga bisa mengirim data menggunakan jaringan Wi-Fi, yang lebih cepat dari satelit.

Synthetic GPS
Teknologi synhethic GPS menggunakan daya komputasi untuk menemukan lokasi satelit beberapa hari hingga beberapa minggu ke depan. Teknologi ini akan memudahkan GPS menemukan satelit ketika dibutuhkan. Roy Machabee dari RX mengatakan, dengan synthetic GPS, maka ponsel hanya akan membutuhkan 2 detik untuk menemukan satelit ketika dibutuhkan.

Cell ID
Operator telepon seluler menggunakan teknologi ini untuk menemukan ponsel tanpa menggunakan GPS. Cell ID mencari lokasi ponsel dengan melacak menara terdekat dengan ponsel. Operator bisa menggunakan database untuk mengidentifikasi lokasi dan nomor ponsel, dari masing-masing sektor dan Base Tranceiver Station (BTS).

Wi-Fi
Teknologi Wi-Fi bisa lebih cepat mengetahui keberadaan sebuah ponsel dibandingkan teknologi Cell ID, karena cakupan Wi-Fi yang berada salam wilayah yang kecil. Ada dua cara Wi-Fi menemukan ponsel, yakni dengan RSSI (Received Signal Strength Indication) dan dengan Wireless Fingerprinting.

RSSI melacak keberadaan ponsel dengan memanfaatkan kekuatan sinyal ponsel, sedangkan Wireless Fingerprinting melacak keberadaan ponsel dengan merekam frekuensi keberadaan ponsel. Jika sebuah ponsel sering berada di lokasi Wi-Fi, maka sistem Wi-Fi akan lebih mudah mengidentifikasi ponsel tersebut, dibandingkan ponsel yang belum pernah masuk ke lokasi Wi-Fi tersebut.

Inertial Sensors
Jika ponsel berada dalam sebuah lokasi yang tidak memiliki sistem wireless, maka sensor ponsel akan tetap merekam lokasi ponsel dengan menggunakan sensor inersial. Setidaknya, sebuah ponsel memiliki 3 sensor inersial, yakni kompas (atau magnetometer), Accelerometer, dan Giroskop.

Kompas (atau magnetometer) digunakan untuk menentukan arah, Accelerometer untuk melaporkan seberapa cepat ponsel bergerak ke sebuah arah, dan Giroskop untuk melacak gerakan berputar. Namun, sensor ini hanya berfungsi dalam waktu yang terbatas.

Barometer
Beberapa smartphone telah memiliki chip yang dapat mendeteksi tekanan udara. Untuk menggunakannya, ponsel harus melakukan pull down data cuaca lokal atau angka baseline pada teknaan udara dan kondisi di dalam bangunan, seperti pemanas atau AC.

Kondisi dalam ruangan seperti pemanas atau AC dapat mempengaruhi akurasi sensor. Barometer bisa dikombinasikan dengan perangkat lainnya seperti GPS dan Wi-Fi. Barometer akan berguna untuk mengelevasi ketika sinyal satelit terhalang gedung.

Ultrasonic
Beberapa pusat perbelanjaan telah menerapkan teknologi ultrasonic di pintu toko untuk mendeteksi smartphone. Pembelanja yang terdeteksi oleh alat ini akan memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah tertentu. Sebelumnya pengguna smartphone harus menginstal aplikasi Shopkick terlebih dahulu agar terdeteksi oleh ultrasonic.

Bluetooth Beacons
Alat ini dapat berkomunikasi dengan Bluetooth 4.0 versi terbaru yang terdapat pada ponsel. Konsep yang hampir mirip dengan fingerprint, membuat alat ini mampu memanfaatkan sinyal dan jaringan ponsel untuk mengidentifikasi keberadaan smartphone. Jika pengguna smartphone mendekati produk tertentu di sebuah toko, maka promosi dari produk tersebut akan terkirim ke ponsel.

Terrestrial Transmitters
Sebuah perusahaan startup Australia, Locata, sedang melakukan uji coba untuk mengatasi keterbatasan GPS. Perusahaan ini membuat pemancar di suatu lokasi yang menggunakan prinsip sama dengan GPS.

Dikarenakan tanda yang kuat dari pemancar inilah, radio locata dapat mendeteksi keberadaan smartphone lebih cepat dari pada gps yang memercayakan satelit.

0 comments:

Post a Comment